“..berikan kekuasaan pada orang bodoh, dan masalah anda akan datang dengan segera..”
Kapal Besar Berpenumpang Lebih Dari 200 Juta Jiwa Menuju Ambang Kehancuran, Banyak Lubang Yang Menjadi Celah Masuknya Air. Tambalan Hanya Pelipur Lara, Teriakkan Jerit Penumpang Jadi Irama Kesukaan Para Nahkoda, Dipermukaan Sana “Burung-Burung Bangkai” Menari Riang Menanti Makanan. Rakyat Tidak Berdosa Jadi Korban Keganasan Monyet Berlegitimasi, Bayi Gizi Buruk Dan Anak-Anak Kecil Berlomba Menanti Maut, Dimimbar Dengan Bangga Sang Nahkodapun Menawarkan Kesejahteraan Dan Keselamatan Bersama. Tapi, Primordialisme Mulai Merayap, Barbarianisme Menghiasi Warna-Warni Hati Nurani, Rezim Premanisme Nahkoda Merestui Segala Cara, Imperialisme Menanti Kesempatan, Ditambah Lagi Mencuatnya Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme Yang Meraja Rela. Predestinasi, Ya, Itulah Yang Diucapkan Salah Satu Awak Kapal. Janji-Janji Palsu Tanpa Bukti Bertebaran Disetiap Penjuru Kapal, Omong Kosong Dan Duit Jadi Sponsor Utama, Eksploitasi Habis-Habisan Membanjiri Kantong Penguasa, Mereka Menindas Dengan Slogan-Slogan Manisan Hati Laknat, Merekapun Meraup Sebanyak Mungkin Lembaran-Lembaran Kertas Anti Air Dan Rakyat Jelata Dijadikan Lahan Pencapaian Kemakmuran Secara Diskriminatif. Tak Ibakah Kau Wahai Sang Penguasa Melihat Ketertindasan, Kemiskinan, Kemelaratan, Kesengsaraan Rakyat Yang Penuh Suka Cita Dan Pengharapan Saat Memilihmu? Tak Goyahkah Imanmu Menyaksikan Problematika Mereka? Tak Bisakah Kau, Saya, Kita, Mereka Dan 200 Juta Jiwa Yang Lain Hidup Dalam “Kebersamaan” Tanpa Ada Benang Merah? Kisah Kuno Tentang Kekuasaan Yang Menjadi Tuhan, Penghianatan yang Merupakan Panglima Perang, Peralihan Banyak Memakan Korban Sementara Segelintir Tuan-Tuan Tertawa Riang Atau Kesetiaan Hanya Janji Murahan, Inilah Dongeng Tidur Untuk Si Buyung.
Wahai Kawan.. Mungkin Sekarang Kita Sama-Sama Hanya Bertiketkan Kelas Ekonomi Di Kapal Besar Nan Megah Ini, Kita Dilarang Melarang. Tapi, Jika Suatu Ketika Kita Pemegang Tiket Kelas Eksekutif Kapal Ini Saya Harap Kita Masih Sepaham Untuk Memperbaiki Segala Kerusakan Yang Disebab-Akibatkan Oleh Mereka Yang Tidak Bertanggung Jawab, Berikan Penghormatan Dan Penghargaan Bagi Para Pahlawan Yang Sudah Bersusah Payah Membuat Kapal Ini. Teruskan Tongkat Estafet Demi Kesejahteraan Anak Cucu Kita, Karena Mereka Berhak Menumpangi Kapal Ini Suatu Saat Nanti.
Wahai Insan Yang tercerahkan Dalam Ketertindasan dan Ketakberdayaan, Kita Begitu Sama Dalam Banyak Hal, Termasuk Prinsip Hidup Dan Cinta Sekalipun, Entah Kau Sayap Kiri Atau Poros Kanan. Dalam Kebingungan Kitapun Sama-Sama Ingin Berteriak; Ada Apa Dengan-Mu Tuhan? Kenapa Semuanya Jadi Kacau Balau? Ada Apa Dengan Para Nahkoda Kapal Ini? Apa Yang Sedang Kau Rencanakan Sebenarnya? Kenapa Harus Kapal Ini, Bukan Yang Lain? Kenapa Harus Kami? Kenapa Tuhan? Kita Hanya Bisa Berdoa Dan Berkata; Semoga Cepat Berakhir! Meskipun Pertanyaan Tadi Hanya Angin Lalu Ditelinga Tuhan Dan Tak Satu Setan-pun Tahu Jawabannya, Tapi Aku Ingin Hidup Merdeka Disampingmu..! Kawan..Disini Kita Bicara Tentang Masa Depan, Bercerita Tentang Solidaritas Humanistik Yang Universal, Kadang Tentang Teman Dan Sahabat Kita Yang Nakal, Lucu, Cerdas, Dungu Bahkan Yang Sudah Meninggalkan Kita Atau Perihal Bunga-Bunga Cantik Nan Wangi Bin Manis Yang Sering Kita Patahkan Rantingnya Karena Kita Egois Sebagai Kumbang. Sungguh Itu Membuatku Melupakan Sejenak Prahara Demi Prahara Yang Menghujani ‘Tanpa Malu’ Kapal Besar Ini.
Saking Indahnya Fenomena Kapal Ini, Sampai Kegelisahanpun Terasa Indah. Ya, Begitulah Fenomena Dan Kapal Ini Bernama Indonesia.
Anak Lapangan Molinow
03/02/09
01/02/09
MUNGKINKAH INI GILA...!
MUNGKINKAH INI GILA..... !
Akan Datang Suatu Hari Yang Telah Kita Ketahui, Ketika Kau, Aku Dan Kita Semua Berjalan Melihat Hutan-Hutan Yang Menjadi Suram, Gersang Karena Ilegalloging, Ketika Kita Begitu Berontak Dan Mesti Terancam Dengan Timah Panas Para Serdadu Polisi, Ketika Jeritan Rakyat Menjadi Musik Penghibur Nurani Penguasa, Ketika Kemiskinan Menjadi Tanggungjawang Tuhan, Dan Ketika Semua Orang Ingin Keluar Dari Bumi Untuk Mencari Kebebasan Dan Kebahagiaan Hidup, Wahai Insan Tercerahkan Dalam Ketertindasan, Kita Begitu Sama Dalam Banyak Hal, Termasuk Prinsip Hidup Dan Cinta.
Entahlah Kau Kiri Atau Kanan, Tapi Katakan Tidak, Atau Kau Terkapar Digilas Penindasan Para Pendosa. Tinjulah Congkaknya Amarah Dengan Sekali Pukulan Dua Kali Mayat.
Jika Tidak, Aku Juga Belum Tahu Apa Yang Nantinya Akan Anak Cucu Kita Katakan Dimasa yang akan datang, Ya.... Katakan atau Tidak sama sekali.
Langganan:
Postingan (Atom)

