setitik ungkapan

mari (kita) luruskan dan rapatkan shaf demi kesempurnaan sholat

02/04/09

Reformasi; Imajinasi Hidup

Ingin bahagia tapi malah derita terasa, keluh seorang ”petani” ketika memandang langit malam yang saat itu cerah tak berkabut. Kelap-kelip bintang dan bulat rembulan mengajak sang “petani” bermimpi dan terimpikan akan reformasi kehidupan keluarganya karena sudah lumayan lama luka kemiskinan menghantui keluarganya, ditemani sang anak yang kebetulan duduk dipangkuannya dan di belakang badannya ada si isteri yang bersandar lemah karena belum makan seharian. Kental terasa dingin angin malam menusuk masuk sampai tulang semakin mempertajam hayalan sang “petani” ini, didepannya terpampang sangat luas hamparan padi yang tinggal menghitung hari akan memasuki musim panen, saking luasnya sawah ini kalau siang hari bagai lautan yang tak bertepi, tapi sayang berjuta sayang sang “petani” hanya numpang hidup—disela kebahagiaan hidup orang lain—sebagai petani penggarap bukan petani pemilik. Ditengah kebisuan malam dan semakin tenggelamnya sang “petani” dalam lamunan, tiba-tiba si anak bertanya; ‘’ayah, apakah besok akan seperti hari ini?’’ Dengan sedikit lama menjawab—karena larut dalam hayalan—sang “petani” malah balik bertanya; ‘’apa maksudmu nak?’’. Dalam suasana tanpa rasa itulah tercipta dialog kehidupan antara kecerdasan berpikir namun masih fluktuatif dari si anak dengan kearifan menjawab dari sang ayah tetapi sedikit gamang akan dampak psikis anaknya.

Anaknya kembali memperjelas, ‘’maksudnya, apakah besok kita tak makan layaknya hari ini?’’

‘’Hari ini tak ada makanan karena hari kemarin kita sudah makan’’ jawab sang ayah.

‘’Kenapa mesti demikian, yah?’’ Sang ayahpun bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan anaknya ini.
Namun dengan kearifan dalam kegamangan sang ayah (alias sang petani) memilih mencoba menghibur—bukan menjawab—anaknya; ‘’wahai anakku, Insya Allah kenikmatan dan kelezatan makan akan kita rasakan esok hari ketika engkau terbangun dari tidurmu, maka nikmatilah kenikmatan sekarang ini sebagai symbol syukur sekalipun tak ada makanan’’. Sekilas tampak kerutan diwajah si anak, dan pertanyaan barupun keluar dari mulut si anak, ‘’apakah karena kita miskin sehingga untuk makanpun harus sehari makan sehari tidak?’’

‘’Anakku, kita tidak miskin hanya karena jarang makan, kerena kebersamaan keluarga kita dalam berbagai hal jauh lebih nikmat dibanding sekedar makan atau tidak makan’’

‘’Tapi yah, bukankah untuk bertahan hidup kita perlu makan demi menjaga kebersamaan diantara kita?’’

‘’Anakku, mana yang lebih penting, menjaga kebersamaan untuk bertahan hidup atau bertahan hidup untuk menjaga kebersamaan?’’

Si anak tak dapat menjawab dan hanya terpaku diam. Disela-sela ketakmampuan menjawab, si anak malah kembali mencoba mencari dan mencuri ilmu kehidupan dari ayahnya yang sebenarnya juga dalam posisi dan suasana kebimbangan akan pertahanan dan keamanan keluarganya di masa esok, bermodal imajinasi yang menimbulkan beragam hayalan tentang kebercukupan keluarganya agar keluar dari nista kehidupan yang tak berpihak dan semakin tak bertepi ini, merangsang sang “petani” untuk berhenti bekerja. Kebahagiaan diharap derita didapat. Aroma penderitaan menyengat pekat keringat dalam hidupnya, bak sapi perahan sang “petani” kerja keras walau tahu upah tak berimbang, seperti robot bernyawa sang “petani” kerja siang dan malam, dalam tangis keresahan dia-pun berucap; kalau guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa maka dia adalah pahlawan terlupakan.

Malam semakin dingin, gemerisik aliran air di sawah terdengar lebih jelas, dari langit yang awalnya cerah perlahan mendung menghadirkan tetes demi tetes air hujan, semakin lama semakin terasa hujan akan tiba dan semakin nampak kerisauan pada raut wajah si anak dan sampailah si anak pada pertanyaan terakhir, ‘’yah, kenapa kita mesti numpang hidup dengan menggarap sawah orang lain? Tak adakah sawah untuk kita miliki sendiri? Siapakah pemilik sawah yang “megah” nan luas bin subur ini? Apakah kelak nanti aku juga akan seperti ayah dan ibu yang harus “berlutut pasrah” begini? Dan adakah kehidupan lain diluar sana yang jadi peluang untuk reformasi kehidupan ini? Karena aku enggan menyendiri ditengah sawah milik orang lain’’...***

to be continued…

31/03/09

Mekarkan nilai juang

Bicara tentang bela, membela dan pembelaan terhadap Negara tentu tak lepas dari jiwa nasionalisme yang perlu dibangun oleh setiap elemen struktural masyarakat dalam ketata-negaraan, mulai dari golongan papan atas sampai pada kelas pinggiran alias tingkat terbawah. Pada gambaran umumnya logika konsepsi pembelaan terhadap Negara dimasa sekarang ini adalah pengembangan teologi tentang wawasan kejuangan dan pembangunan Nasional mulai dari pengimplemantasian teks sampai pada konteksnya, tanpa harus menabuh genderang perang atau agresi militer kesuatu Negara demi memperluas wilayah kekuasaan, karena sekarang ini bukan lagi jaman imperialisme.
Jelas bagi kita, kenikmatan yang ada sekarang dikarenakan adanya jiwa kejuangan para pendahulu dan para veteran yang bukan hanya sekedar berkorban harta, waktu dan pikiran tetapi juga nyawa menjadi taruhan. Secara teknis, ketika bangsa ini berada dibawah bayang-bayang cengkeraman penjajah perlengkapan persenjataan kita jauh dari memadai mulai dari jumlah maupun kualitas. Menurut rasio kita, keberadaan persenjataan yang minim sangat mustahil bisa melepaskan diri dan mengusir penjajah dari negeri tercinta ini. Namun, berkat adanya jiwa kejuangan pada setiap warga Negara Indonesia, maka betapapun besar gelombang dan aral melintang tetap saja perjuangan demi terbebas dari belenggu penderitaan terwujudkan dengan meraih kemerdekaan mutlak secara de facto dan de jure. Ini menggambarkan bahwa pentingnya peranan jiwa kejuangan dalam perjuangan bangsa dan pembelaan Negara. Dengan jiwa kejuangan yang tinggi seyogyanya membuat kita tahan terhadap pelbagai tahapan proses sehingga tidak mengenal lelah sebelum cita-cita tercapai.
Kejuangan juga merupakan emotional intelligence yang sedikit-banyak telah berperan pada masa lalu bangsa ini menuju gerbang kemerdekaan. Dari pengalaman sejarahnya bangsa ini banyak memberikan hikmah yang dapat diambil terutama mengenai bagaimana para pejuang kita bersatu padu untuk mencapai kemerdekaan Negara tercinta ini, Indonesia. Tentu kita semua tahu bahwa ketika awal-awal masa perjuangan para pejuang kita belum bahkan tidak terorganisir dengan baik sehingga kemerdekaan seperti jauh api dari panggang dan kegagalanpun membawa problematika tersendiri. Perjuangan demi kemerdekaan secara kolektif dipelopori oleh putra bangsa ini dengan didirikannya perkumpulan Budi Utomo pada tanggal 20 mei 1908, perkumpulan ini adalah suatu gerakan pemuda dari kalangan terdidik tanpa kesukuan sebagai perbedaan dalam perjuangannya, oleh karenanya tanggal itu dinamakan “Hari Kebangkitan Nasional”. Gerakan ini merupakan cerminan dari perjuangan Kartini, salah satu anak bangsa yang sadar bahwa untuk mensejahterakan semua warga Negara Indonesia adalah dengan menghilangkan perbedaan suku, agama, ras dan golongan.
Perspektif umum Teologi kejuangan bagi bangsa ini adalah dapat membangun rasa cinta tanah air, spirit nasionalisme dan heroisme, terwujudnya pembangunan nasional yang merata, dan mampu menghadirkan kader-kader bangsa yang potensial. Prinsip nilai kejuangan ini juga didasarkan pada kultur dan jiwa bangsa Indonesia, seperti yang telah dilakukan oleh Kartini, Sudirman, Soekarno, Hatta dan lain-lain. Dimana perjuangan mereka tersesuaikan dengan realitas tuntutan dan tantangan zaman, bagaimana dengan kita para generasi penerus?
Menyadari sepenuhnya nilai kejuangan tadi, maka perlu dikaji lebih dalam sekedar untuk menginternalisasikan nilai-nilai tersebut pada kondisi actual saat ini. Internalisasi (penghayatan) nilai-nilai juang penting dilakukan karena saat ini bangsa kita Negara kita Indonesia, sedang diambang kehancuran dengan mulai retaknya persatuan dan kesatuan, ini ditandai dengan perseteruan para elite dipanggung politik, eksploitasi habis-habisan para kapitalis terhadap rakyat jelata secara diskriminatif, serta menjalarnya budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Ironisnya, beragam polemic yang semakin hari semakin kompleks tak mampu membawa bangsa ini pada perubahan konkrit sebagai bentuk pembelajaran tapi malah menyeret bangsa ini pada krisis multidimensional, yang pada intinya krisis ini dikarenakan lunturnya semangat rasa kebangsaan dan kurangnya internalisasi nilai-nilai juang. Analogi dari kausalitas tadi sedikitnya menggambarkan tentang punahnya etika dan moral bangsa ini sehingga terjadi distorsi kekuasaan disetiap elemen masyarakat dan gejolak sosial yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan diatas kepentingan bangsa dan Negara. Akibatnya krisis moral bangsa ini mulai menimbulkan pertanyaan, apakah NKRI akan tetap utuh berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam menghadapi krisis multidimensional yang mengarah kepada disintegrasi bangsa?.
In principle, kita bangsa yang beragam suku tapi cita-cita harus satu, kita bermacam budaya tetapi gawang kehidupan harus satu, kita punya banyak agama, nilai, berbagai pilihan disegala sisi kehidupan tetapi sekali lagi obsesi kita harus satu, yaitu memerdekakan kemerdekaan. Junjung tinggi nilai kejuangan, teruskan tongkat estafet agar perjuangan pahlawan kita tak sia-sia dan satukan pikiran demi melangkah kemasa depan yang lebih baik agar bangsa ini menjadi bangsa yang kaya dalam berbagai dinamika kehidupannya. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?.***

03/02/09

Indahnya Fenomena

“..berikan kekuasaan pada orang bodoh, dan masalah anda akan datang dengan segera..”

Kapal Besar Berpenumpang Lebih Dari 200 Juta Jiwa Menuju Ambang Kehancuran, Banyak Lubang Yang Menjadi Celah Masuknya Air. Tambalan Hanya Pelipur Lara, Teriakkan Jerit Penumpang Jadi Irama Kesukaan Para Nahkoda, Dipermukaan Sana “Burung-Burung Bangkai” Menari Riang Menanti Makanan. Rakyat Tidak Berdosa Jadi Korban Keganasan Monyet Berlegitimasi, Bayi Gizi Buruk Dan Anak-Anak Kecil Berlomba Menanti Maut, Dimimbar Dengan Bangga Sang Nahkodapun Menawarkan Kesejahteraan Dan Keselamatan Bersama. Tapi, Primordialisme Mulai Merayap, Barbarianisme Menghiasi Warna-Warni Hati Nurani, Rezim Premanisme Nahkoda Merestui Segala Cara, Imperialisme Menanti Kesempatan, Ditambah Lagi Mencuatnya Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme Yang Meraja Rela. Predestinasi, Ya, Itulah Yang Diucapkan Salah Satu Awak Kapal. Janji-Janji Palsu Tanpa Bukti Bertebaran Disetiap Penjuru Kapal, Omong Kosong Dan Duit Jadi Sponsor Utama, Eksploitasi Habis-Habisan Membanjiri Kantong Penguasa, Mereka Menindas Dengan Slogan-Slogan Manisan Hati Laknat, Merekapun Meraup Sebanyak Mungkin Lembaran-Lembaran Kertas Anti Air Dan Rakyat Jelata Dijadikan Lahan Pencapaian Kemakmuran Secara Diskriminatif. Tak Ibakah Kau Wahai Sang Penguasa Melihat Ketertindasan, Kemiskinan, Kemelaratan, Kesengsaraan Rakyat Yang Penuh Suka Cita Dan Pengharapan Saat Memilihmu? Tak Goyahkah Imanmu Menyaksikan Problematika Mereka? Tak Bisakah Kau, Saya, Kita, Mereka Dan 200 Juta Jiwa Yang Lain Hidup Dalam “Kebersamaan” Tanpa Ada Benang Merah? Kisah Kuno Tentang Kekuasaan Yang Menjadi Tuhan, Penghianatan yang Merupakan Panglima Perang, Peralihan Banyak Memakan Korban Sementara Segelintir Tuan-Tuan Tertawa Riang Atau Kesetiaan Hanya Janji Murahan, Inilah Dongeng Tidur Untuk Si Buyung.

Wahai Kawan.. Mungkin Sekarang Kita Sama-Sama Hanya Bertiketkan Kelas Ekonomi Di Kapal Besar Nan Megah Ini, Kita Dilarang Melarang. Tapi, Jika Suatu Ketika Kita Pemegang Tiket Kelas Eksekutif Kapal Ini Saya Harap Kita Masih Sepaham Untuk Memperbaiki Segala Kerusakan Yang Disebab-Akibatkan Oleh Mereka Yang Tidak Bertanggung Jawab, Berikan Penghormatan Dan Penghargaan Bagi Para Pahlawan Yang Sudah Bersusah Payah Membuat Kapal Ini. Teruskan Tongkat Estafet Demi Kesejahteraan Anak Cucu Kita, Karena Mereka Berhak Menumpangi Kapal Ini Suatu Saat Nanti.

Wahai Insan Yang tercerahkan Dalam Ketertindasan dan Ketakberdayaan, Kita Begitu Sama Dalam Banyak Hal, Termasuk Prinsip Hidup Dan Cinta Sekalipun, Entah Kau Sayap Kiri Atau Poros Kanan. Dalam Kebingungan Kitapun Sama-Sama Ingin Berteriak; Ada Apa Dengan-Mu Tuhan? Kenapa Semuanya Jadi Kacau Balau? Ada Apa Dengan Para Nahkoda Kapal Ini? Apa Yang Sedang Kau Rencanakan Sebenarnya? Kenapa Harus Kapal Ini, Bukan Yang Lain? Kenapa Harus Kami? Kenapa Tuhan? Kita Hanya Bisa Berdoa Dan Berkata; Semoga Cepat Berakhir! Meskipun Pertanyaan Tadi Hanya Angin Lalu Ditelinga Tuhan Dan Tak Satu Setan-pun Tahu Jawabannya, Tapi Aku Ingin Hidup Merdeka Disampingmu..! Kawan..Disini Kita Bicara Tentang Masa Depan, Bercerita Tentang Solidaritas Humanistik Yang Universal, Kadang Tentang Teman Dan Sahabat Kita Yang Nakal, Lucu, Cerdas, Dungu Bahkan Yang Sudah Meninggalkan Kita Atau Perihal Bunga-Bunga Cantik Nan Wangi Bin Manis Yang Sering Kita Patahkan Rantingnya Karena Kita Egois Sebagai Kumbang. Sungguh Itu Membuatku Melupakan Sejenak Prahara Demi Prahara Yang Menghujani ‘Tanpa Malu’ Kapal Besar Ini.

Saking Indahnya Fenomena Kapal Ini, Sampai Kegelisahanpun Terasa Indah. Ya, Begitulah Fenomena Dan Kapal Ini Bernama Indonesia.

Anak Lapangan Molinow

01/02/09

MUNGKINKAH INI GILA...!

MUNGKINKAH INI GILA..... !

Akan Datang Suatu Hari Yang Telah Kita Ketahui, Ketika Kau, Aku Dan Kita Semua Berjalan Melihat Hutan-Hutan Yang Menjadi Suram, Gersang Karena Ilegalloging, Ketika Kita Begitu Berontak Dan Mesti Terancam Dengan Timah Panas Para Serdadu Polisi, Ketika Jeritan Rakyat Menjadi Musik Penghibur Nurani Penguasa, Ketika Kemiskinan Menjadi Tanggungjawang Tuhan, Dan Ketika Semua Orang Ingin Keluar Dari Bumi Untuk Mencari Kebebasan Dan Kebahagiaan Hidup, Wahai Insan Tercerahkan Dalam Ketertindasan, Kita Begitu Sama Dalam Banyak Hal, Termasuk Prinsip Hidup Dan Cinta.
Entahlah Kau Kiri Atau Kanan, Tapi Katakan Tidak, Atau Kau Terkapar Digilas Penindasan Para Pendosa. Tinjulah Congkaknya Amarah Dengan Sekali Pukulan Dua Kali Mayat.
Jika Tidak, Aku Juga Belum Tahu Apa Yang Nantinya Akan Anak Cucu Kita Katakan Dimasa yang akan datang, Ya.... Katakan atau Tidak sama sekali.